Niatnya Razia Biasa, Eh Ternyata Hasil Sampel Makanan Ini Positif Mengandung Daging Ini, Ngeri!

Isu tidak sedap kembali diterima warga Kabupaten Nunukan. Khususnya penggemar kuliner jenis bakso. Sebab, daging yang digunakan untuk pembuatan bakso selama ini dikonsumsi disinyalir mengandung daging tikus.

Hal ini terungkap pasca keluarnya hasil pemeriksaan laboratorium yang diterbitkan kepala Balai Veteriner Banjar Baru nomor 29005/PK.310/F.5.E/09/2017 tertanggal 29 September 2017 atas sampel-sampel pangan asal hewan yang ditelah dilakukan oleh petugas pada pelaku usaha produk pangan asal hewan Kabupaten Nunukan yang dinyatakan positif terindentifikasi mengandung spesies tikus.

Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-Undangan Daerah Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Nunukan Yance Tambaru SE membenarkan hal tersebut. Untuk itu, berdasarkan laporan dan koordinasi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Nunukan dilakukan pemeriksaan di sejumlah rumah makan. Khususnya terhadap 2 pabrik penggilingan daging di Jalan TVRI, Kelurahan Nunukan Tengah. “Memang sudah jadi Target Operasi (TO) penggilingan daging itu. Kini menjadi pengawasan kami,” ungkap kepada media ini disela pemeriksaan yang dilakukan.    

Setelah diperiksa memang banyak yang melanggar. Salah satunya izin penggilingan dagingnya. Ternyata sudah tidak berlaku lagi. Sudah habis masa berlakunya sejak 2009. Makanya, diberikan kesempatan selama satu bulan untuk melengkapi izinnya. “Makanya kami meminta agar segera diperpanjang. Tapi, lengkapi dulu semua surat rekomendasi dari instansi terkait.Khususnya dinas kesehatan untuk masalah kebersihan dan kelayakan alat yang digunakan,” tegasnya.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Nunukan Hj. Ramsidah SKM mengatakan, dua penggilingan daging yang ada di Kecamatan Nunukan menjadi perhatian pihaknya selama ini. Sebab, hasil pemeriksaan dan pemantauan awal di lapangan banyak ditemukan hal yang melanggar. Khususnya mengenai kebersihan dan kelayakan sejumlah peralatan yang digunakan. “Sudah lama ditegur soal kebersihannya. Beberapa kali kami pantau. Nah, saat ini sudah mulai berbenah. Saran-saran yang kami berikan mulai dijalankan,” ungkapnya kepada media ini.

Menurutnya, penggunaan penggilingan daging ini memang perlu perhatian khusus dan rutin di pantau. Sebab, sangat rentan dengan sumber penyakit. Apa lagi jika kebersihannya diabaikan. Begitu juga dengan ruangan dan tempat-tempat penyimpanan bahan makanan lainnya. “Bukan hanya daging tikusnya saja. Tapi, keberadaan tikus di tempat-tempat pengelolaan makanan itu harus diperhatikan. Banyak saya temukan tikus berkeliaran di sekitar dapur. Itu yang perlu diperhatikan,” ungkapnya.

Irawan, perwakilan pemilik warung Makan Arema membantah kabar tersebut. Ia menegaskan jika selama ini pihaknya hanya menggunakan daging sapi. Bahkan, daging sapi yang diperolehnya dari hasil peternakan yang dilakukan. “Kami kaget karena selama ini tidak pernah menggunakan daging tikus. Yang ada daging sapi dari peternakan kami sendiri,” ungkapnya kepada sejumlah media saat dikonfirmasi.

Ia mengatakan, hasil sampel daging yang dikeluarkan Dinas Pertanian dan Ketahann Pangan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) itu perlu dilakukan ulang. Sebab, apa yang dilakukan ini sudah sangat merugikan pihaknya.  “Waktu pengambilan sampel itu saya tidak ada memang. Saya merasa dirugikan dengan informasinya ini,” ungkapnya.

Menurutnya, penggilingan daging yang dilakukan selama ini tidak hanya dari pihaknya saja. Namun, juga menerima pesanan penggilingan daging dari masyarakat dan penjual bakso lainnya. “Bisa juga daging dari luar yang digiling di tempat kami. Kebetulan ada pengambilan sampel dan akhirnya ditemukan adanya daging tikus itu. Bisa jadi begitu,” ungkapnya.

Irawan mengaku tidak ada sama sekali niat pemilik penggilingan bahkan usaha penjualan bakso ini menggunakan daging yang dilarang. Demikian juga dengan daging yang datang dari warga lainnya untuk digiling. “Kami tidak sampai ke situ kalau ada daging tikus. Karena selama ini daging yang datang sudah dicincang dan dipotong-potong. Jadi, kami langsung giling,” ungkapnya. “Dengan adanya masalah ini, tentunya menjadi pelajaran penting bagi kami. Kami harus berhati-hati menerima daging dari luar untuk digiling di tempat kami,” sambungnya mengakhiri. 

Loading...
loading...

Leave a Comment