Ingatkah Anda Dengan Wahyudin Pemulung Ganteng Yang ‘Ngotot’ Bersekolah? Ternyata Begini Nasibnya Sekarang

Perjuangan berat yang dilalui Wahyudin (26) sepertinya akan segera berakhir. Sudah banyak jenjang pendidikan yang dilewatinya. Banyak pencapaian luar biasa yang sudah dicapainya dan ini seperti hal yang tak mungkin lantaran keterbatasan ekonomi yang menghimpitnya.

Dua tahun yang lalu, Wahyu, sapaan akrab Wahyudim masih memanggul karung berisi kardus-kardus bekas yang siap dijual di pengepul. Sebuah profesi yang dilakoni Wahyu sejak berusia 10 tahun dan duduk dibangku kelas IV Sekolah Dasar, yakni menjadi seorang pemulung.

Tak seperti anak kebanyakan yang didukung orang tuanya, Wahyu harus berjuang sendirian. Jangankan untuk meminta pendidikan yang tinggi kepada orang tuanya, hanya untuk meminta restu untk bisa sekolah kepada kedua orang tuanya, Wahyu harus berkali-kali berpikir keras. Saudara-saudaranya bahkan harus putus sekolah demi membantu ayahnya mencari sesuap nasi.

“Saya waktu kecil SD itu mikir, ‘aduh habis deh nih, kalau kakak-kakak enggak sekolah berarti saya enggak sekolah dong? Karena kan satu sumber keuangannya’. (Tapi) saya enggak mau terima nasib, saya harus keluar dari rantai kemiskinan,” papar Wahyu kala itu Jumat (19/6/2015), seperti yang tertera di detik.com

Wahyu merupakan putra sulung dari tiga bersaudara dan ibunya adalah istri kedua ayahnya. Dari pernikahan dengan istri pertama, ayahnya memiliki lima orang anak. Ayahnya bekerja sebagai seorang buruh tani dan juga melayani jasa ojek. Ibunya pun menjadi buruh tani dan hasilnya hanya cukup untuk makan.

“Saya putusin jalan ke tetangga untuk mulung. SD kebutuhan makin besar saya tambah mulung dan gembala kambing, udah SMP tambah jualan gorengan, SMA tambah mulung, gembala kambing, mengajar les disambi on air jadi penyiar, jualan susu murni, dagang asongan di pinggir rel, semua ada 7 profesi di luar sekolah,” paprnya

Dan memikul 7 profesi itu, tak lantas membuat semangat Wahyu untuk mengenyam pendidikan luntur. Akhirnya ia mendapatkan jalan agar bisa berkuliah. Kemudian Wahyu berkesampatan menempuh jenjang sarjana di Fakultas Ekonimi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka). Dia wisuda tahun 2013, mendapatkan IPK 3,85 dan  masih berprofesi sebagai pemulung.

 

“Saya lulus dari Uhamka 2013 akhir, di situ saya memang sebelum lulus udah dapet beasiswa S2 duluan karena waktu itu diwawancara detikcom bulan Maret, belum lulus. Dari saya pribadi setelah muncul di detikcom itu saya banyak dikenal orang dan dari Kemendikbud datang ke rumah saya. Salah satu stafnya bilang, saya dapat beasiswa unggulan walau tanpa tes. Saya boleh kuliah di luar negeri, bebas pilih negara mana saja,” paparnya

Dan waktu itu Wahyudi ingin menginjakkan kakinya ke luar negeri adalah Makkah, selain itu dia tak mau. Akhirnya, ia memutuskan ambil pendidikan di Indonesia. Selanjutnya Wahyu memiliki kesempatan untuk masuk ke Program Magister of Business Administration (MBA) ITB Kampus Jakarta tapi harus melewati tes bahasa Inggris.

“Waktu saya mau ke ITB ada tes bahasa Inggris dan matematika nilainya 7,8. Toefl-nya harus 475 kalau tidak salah. Saya belum pernah tes karena orang tua sederhana, enggak pernah kursus bahasa Inggris sama sekali tiba-tiba mau S2 pelajarannya full English,” paparnya.

Namun, ia tak mau menyerah, ia memulai belajar bahasa inggris dengan temannya yang bernama Rizky Yusuf. Awalnya ia hanya belajar tulis namun, perkuliahan harus lancar bahasa Inggris.

Kursus bahasa Inggris mahal, dan akhirnya saat berada di Pasar Jatinegara ia melihat orang asing sedang jalan-jalan dan dipandu oleh tour guide. Dia tinggalkan karung mulungnya dan merayu tour guide untuk bisa menggantikan.

“Saya bilang sama Mbak tour guide-nya kalau saya mau kuliah, saya pemulung, saya enggak punya uang buat kursus jadi saya mau jadi tour guide biar praktik langsung buat tes wawancara. Sambil becek-becek nyeker (tak beralas kaki, -red) saya keliling-keliling dan jelaskan tentang Jatinegara,” jelasnya

Ia bertanaya pada turis mengenai bahasa Inggrisnya dan sang turis menjawab sudah bagus dan jelas. Dan Wahyu sudah mulai percaya diri dan memberanikan diri menginjakkan kaki ke Mall untuk sekedar bertemu bule. Dan dengan modal itu, Wahyu lalu sukses menyandang gelar sebagai mahasiswa magister ITB.

“Ketika S2 ini pun prosesnya hampir sama, saya menyamar, saya sembunyikan identitas pemulung saya. Saya pakai baju bagus dibeliin kakak angkat saya, kak Muhammad Habsyi. Pas semester 2 baru mereka tahu saya pemulung dan mereka semua pada kaget,” tutur Wahyu.

Ia lalu menceritakan berbagai kisah perjuangannya. Sampai pada akhirnya pada penghujung 2013 mendapatkan bantuan dari WNI di Australia dan mendapatkan modal 4 juta untuk modal merintis usaha ternak entok (sejenis itik). Dan setelah lulus S2 ini rencananya akan mengambil PhD ke luar negeri.

Loading...
loading...

Leave a Comment