Calon Suami Menghilang di Hari Pernikahan, 3 Bulan Berlalu Ada Berita yang Mengejutkan

Hari pernikahan merupakan momen yang ditunggu-tunggu semua pasangan.

Hari bahagia itu merupakan pengesahan bagi pasangan untuk menjalani rumah tangga.

Ada yang lancar dan berakhir bahagia, namun ada juga yang berakhir sebaliknya.

 

Satu cerita ini sangat unik karena berakhir dengan akhir yang aneh.

Hal ini dialami oleh seorang wanita dari malaysia.

Dilansir dari awekcute, ini dia kisahnya:

Untuk para pembaca, saya harap kisah saya dijadikan pelajaran untuk semua.

Jangan risau, cerita saya tak akan buat Anda semua pusing bila membacanya.

Pernikahan tersisa 1 minggu saja lagi, Kartu undangan sudah didistribusikan, katering, pelaminana, baju dan semua sudah dipesan dan dibayar.

Keluarga yang lain sudah ada yang bermalam di rumah saya untuk acara yang dinantikan oleh keluarga saya.

Malam berinai yang cukup membuat jiwa saya jadi kacau, air mata berlinang tak henti sebab rombongan pengantin pria yang seharusnya datang ke kampung saya tapi masih belum muncul.

Ya Allah beberapa jam acara akad nikah lagi, inai di jari kaki dan tangan sudah merah.

Pelaminan nikah siap di ruang tamu rumah dengan lampu redup nampak romantis. 
Keluarga sibuk bergotong royong di dapur untuk acara akad nikah esok hari.

 

Hati sudah menjadi tak tentu arah, saya hubungi tunangan tapi sayangnya HP off.

Ibu dan bapak tunangan saya langsung tak jawab panggilan saya.

Dalam hati saya sudah yakin dia tidak akan datang ke acara saya.

Acara akad nikah akan diadakan setelah waktu Dzuhur, yaa betul sangkaan saya, mereka tidak datang.

Ya Allah swt, menangis sedih ketika itu bukan karena saya tidak jadi menikah.

Tapi sedih melihat ibu bapak anggota keluarga dan adik beradik saya yang seharusnya gembira tetapi berubah sedih hampa kecewa dan malu.

Tanpa berpikir panjang seawal pukul 7 pagi saya kumpulkan anggota keluarga terdekat.

Saya gagahkan diri beritahu mereka yang si pria tidak akan datang, mak dan ayah saya cepat batalkan acara pernikahan yang yang telah di pesan.

Termasuk dipan, katering dan juga fotografer.

Dalam waktu yang sama saya sangat tidak tahu menahu apa sebab dia tak hadirkan diri.

 

Padahal pengeluaran pernikahan semua dia yang berikan.

Ketika bertunangan, keluarga dia datang membawa duit belanja dan juga hantaran bertunang.

Saya bersyukur walaupun dalam keadaan begini, keluarga masih rasional dan mereka beranggapan si pria sudah beristri.

Sebab itu ia tidak munculkan diri, acara dikonversi dengan kenduri kesyukuran.

Anggota keluarga semua bersimpati pada saya, tidak kurang juga ada yang menghina dan mencemooh saya seolah2 saya yang bersalah.

Saya masih waras, saya masih sayang keluarga.

Tidak terpikir untuk bunuh diri atau melarikan diri karena saya sangat yakin pasti ada hikmah dsebalik semua ini.

Seminggu keudian si pria menghubungi saya, bermacam alasan yang dia beri.

Keluarga saya yakin pasti ada hal yang dia tutupi.

Dengan cara baik, keluarga putuskan tali pertunangan dengan tunangan saya melalui panggilan telepon dengan cara yang baik.

 

Banyak juga yang menyuruh ayah saya untuk berikan santet.

Tapi ayah dan mak menolak dan mereka yakin pasti ada balasan yang lagi setimpal yang akan dia peroleh setelah ini.

3 bulan setelah kejadian tersebut saya terima panggilan dari seorang perempuan, memaki, menghina dan mencaci saya dengan kata kasar,

Saya heran dan tekejut, kenapa saya kena maki.

Namun saya dengan tenang menebak semua caci maki perempuan tersebut.

Rupanya dia istri kedua mantan tunangan saya, dia tuduh saya merebut suami dia.

Dalam kondisi itu, saya mau tertawa sekaligus menangis.

Bukan apa dia tuduh saya rampas, padahal saya tak jadi menikah

Saya tidak tahu menahudia sudah beristri dua dan memiliki anak seorang berusia 1 bulan.

Saya korban penipuan oleh pria penipu.

Kalau perempuan lain mungkin bisa jadi gila sebab tak jadi menikah.

Setelah istri dia sudah puas maki-maki saya, saya kirimkan semua bukti foto pertunangan.

Dan persiapan pernikahan yang lain terutama sekali kartu undangan pernikahan.

Tak cukup dari itu, semua bukti tanda terima pembayaran / pengeluaran persiapan pernikahan saya kirim dengan istri dia.

Tekejut tak terkata si istri, saya jelaskan dengan nada yang lembut tanpa kasar.

Walau sedikit saya mengerti perasaan dia sebagai perempuan.

Saya pelan-pelan bicara dengan dia agar dia tidak salah paham dengan situasi saya.

Alhamdulillah dia terima dengan baik.

Dan dia siap bermadu dengan saya katanya dia yakin saya perempuan yang baik untuk suami dia.

Tapi Oh Tak Mungkin cukup dengan apa yang bekas tunangan buat pada saya dengan keluarga saya, cukup memalukan saya

Loading...
loading...

Leave a Comment