Baru Tahu! Jangan Biarkan Anak Bermain "Slime". Ini Bahayanya

Bermain merupakan kegiatan anak-anak yang jangan dilarang, karena anak-anak jiwa dan pikirannya masih senang dengan bermain-main. Banyak permainan kreatif, yang sebenarnya bisa diberikan untuk anak-anak. Permainan yang mengasah otak, dan melatih imajinasi anak, tentunya semua yang bertujuan postif.

Salah satu permainan yang sedang trend di dalam negeri maupun internasional adalah Slime. Mainan ini berbentuk seperti lem atau cairan lengket dan pekat yang sekilas terlihat seperti lendir. Cairan slime ini dibuat dalam berbagai macam variasi warna dan menggunakan bahan-bahan yang berbeda yang akhir-akhir ini sedang menjadi kegemaran anak-anak. 

Slime bisa dibuat sendiri di rumah dengan berbagai bahan. Memang slime bisa dibuat dengan bahan-bahan yang aman. Tapi, ada yang perlu diperhatikan oleh orangtua, jangan sampai anak, adik, keponakan, atau kerabat mengalami apa yang dialami Kathleen, gadis kecil berusia 11 tahun asal Massachusets, Amerika Serikat ini.

Awalnya memang tidak ada yang aneh. Kathleen sudah sangat sering membuat slime. Ibaratnya, sudah ratusan hingga ribuan kali. Tapi kali ini, ketika ia pulang dari menginap di rumah seorang teman-tentu juga bermain slime bersama, ada kejadian yang sangat mengejutkan.

Ia terbangun dari tidurnya di tengah malam dengan rasa panas luar biasa di ujung-ujung jemari kecilnya. Kathleen menangis karena merasakan sakit yang tidak tertahankan. Sang ibunda langsung membawa Kathleen ke rumah sakit saat itu juga.

"Saya merasa sudah menjadi ibu yang paling buruk untuk putri saya," kata Siobhan Quinn, sang ibunda. 

Putrinya sudah sangat 'akrab' dengan bahan-bahan dasar pembuat slime seperti lem, sabun dan boraks. Sekilas, kelihatannya, bahan-bahan itu memang menakutkan, tapi semua anak seperti sudah pernah mempraktikkannya dan tidak pernah terjadi apapun.

Alhasil, putri kecilnya itu harus dirawat di rumah. Ia tidur dengan jemari yang diperban karena lapisan-lapisan kulitnya terus mengelupas dan terasa perih. Kathleen pun terpaksa harus absen dari sekolahnya hingga satu minggu.

Ternyata, penyebab terbakarnya kulit telapak tangan dan jari Kathleen itu disebabkan oleh boraks yang memang sesungguhnya tidak pernah diperbolehkan atau diperuntukkan bagi anak-anak. Dr. Megan Hannon dari Southshore Hospital menjelaskan bahwa boraks memiliki reaksi kimia panas dan sangat membahayakan jika terpapar di permukaan kulit tanpa pelindung apapun.

Makanya mulai sekarang berhati-hati ketika membuat slime, orangtua juga perlu mengawasi anak. Kalau perlu gunakan bahan-bahan yang aman dan anti bahan kimia. Perhatikan pula lem yang menjadi bahan dasar dari slime ya.

Sumber


Loading...
loading...

Leave a Comment