Astagfirullah! Pohon Beringin Tua di Alun-alun Banjarnegara Ini Tiba-tiba Lenyap. 5 Menit Kemudian Inilah Yang Terjadi!

Bencana angin kencang di seputaran alun alun Banjarnegara jadi salah satu tragedi terburuk dalam setahun terakhir ini.

Pohon di tengah alun-alun tumbang karena tersapu angin kencang hingga mengenai sejumlah orang yang berteduh di bawahnya.

Sedikitnya 6 orang mengalami luka dan seorang lainnya tewas karena tertimpa pohon ini.

Sisa-sisa kengerian bencana itu hingga sekarang masih terlihat. Tumpukan ranting pohon beringin masih berserak di tanah lapang tengah alun-alun.

Potongan batang dan akar beringin yang tercerabut dari tanah masih tergeletak di tempatnya.

Kasatkom Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Banjarnegara Tejo Sumarmo menyaksikan langsung kengerian saat peristiwa itu terjadi.

Ia yang kini berusia 57 tahun, mengaku baru kali ini, melihat angin besar mengamuk kota hingga menumbangkan pohon beringinberusia ratusan tahun.

"Seumur-umur tinggal di sini, baru kali ini ada angin kencang di pusat kota hingga timbulkan korban,"katanya, Kamis (9/11/2017).

Rabu siang lewat duhur, (8/11), sekitar 79 atlet muda voli tengah mengikuti gelaran pertandingan bolo voli dalam rangka Hari Ulang Tahun PGRI di alun-alun Banjarnegara.

Cuaca mendadak mendung, namun dua tim voli masih meneruskan pertandingan. Tak lama kemudian, mendung pekat di langit kota memuntahkan gerimis.

Pertandingan terpaksa dihentikan. Seluruh pemain menyebar ke segala penjuru mencari tempat berteduh.

Sebagian di antaranya menepi ke bawah pohon beringin yang juga dimanfaatkan sebagai ruang ganti pemain.

"Saya sempat tanya ke wasit kalau hujan pertandingannya gimana. Katanya dipindah ke Surya Yudha Park. Ya sudah berarti aman,"katanya

Angin kencang tiba-tiba menyergap dari arah utara alun-alun disertai hujan lebat. Titik air hujan berubah jadi kabut yang membatasi pandangan mata.

Seluruh benda di alun-alun terlihat samar hingga tak tampak sama sekali. Tejo bahkan tak melihat lagi penampakan pohon besar di tengah alun-alun karena tertutup kabut pekat.

Yang ada hanya suara badai dan benda berjatuhan. Juga jeritan pedagang yang menyebut-nyebut nama Tuhan.

Angin besar itu hanya singkat mampir di alun-alun. Lima menit kemudian, sang badai hengkang. Pemandangan alun-alun kembali tersingkap seiring dengan menipisnya volume kabut.

Saat itu, Tejo melihat gerobak-gerobak milik Pedagang Kaki Lima (PKL) di keliling alun-alun sudah porak poranda tersapu angin. Yang lebih mengagetkan, pohon beringin di tengah alun-alun sudah tergeletak di tanah hingga akar-akar besarnya menyembul ke atas.

"Kami kemudian lari ke pohon tumbang itu, karena banyak yang berteduh di sana tadi,"katanya

Pohon yang digadang melindungi justru melahirkan petaka bagi orang-orang yang bernaung di bawahnya. Tejo menyaksikan sekitar sepuluh orang terjepit di rerimbunan ranting. Beberapa di antaranya berhasil lepas sambil meringis kesakitan.

Sementara tujuh orang masih meraung kesakitan karena tak mampu lepas dari jepitan dahan. Seorang di antaranya tak bergerak karena tertindih batang besar.

Tejo dan anggota RAPI lain bersama warga berusaha mengevakuasi korban sambil menunggu alat berat yang datang 10 menit kemudian.

"Butuh alat berat untuk menyingkirkan batang dan ranting pohon yang besar,"katanya

Pohon beringin berusia ratusan tahun itu selama ini jadi ikon alun-alun. Pohon itu jadi penyejuk di tengah terik lapangan alun-alun.

Masyarakat biasa berteduh di bawah pohon rindang sambil menikmati pemandangan alun-alun.

Bagi Tejo, pohon beringin di alun alun menyimpan sejuta kenangan masyarakat Banjarnegara dari lintas generasi. Ia juga jadi saksi bisu sejarah perkembangan kota Banjarnegara.

Pemerintah Kabupaten Banjarnegarasempat mempercantik pohon itu dengan memagari keliling pohon. Sayang, pohon itu kini menutup riwayatnya sendiri dengan catatan kelam.

Pohon beringin tumbang di alun alun kali ini bukan kejadian pertama. Menurut Tejo, sekitar dua tahun lalu, sebuah pohon beringin tua di tengah alun-alun lebih dulu tumbang usai diterpa hujan lebat.

"Dulu tahun 1970 an, saya kalau menonton pertandingan bola di alun-alun suka menaiki pohon beringin ini," kenang Tejo.

Loading...
loading...

Leave a Comment