Aku Dibuang Orangtuaku, demi Menyelamatkan Adikku, Mereka Menemuiku dan Minta Bantuan, Namun, Syarat dari Ibu Angkat Membuatku Meneteskan Air Mata

Sewaktu kecil, aku sudah tahu kalau aku bukan anak kandung orangtuaku, aku adalah anak yang dipungut mereka. Aku adalah seorang anak yang dibuang orangtua kandungku.

Ilustrasi.

Orangtua angkatku sangat baik padaku. Mereka selalu memberikan yang terbaik untukku.

Setelah aku dewasa dan mulai bekerja, aku pun menyerahkan gajiku setiap bulan kepada mereka, dan membelikan hadiah untuk mereka.

Aku hanya berharap orangtua angkatku ini bisa hidup damai sejahtera, dan aku akan berbakti pada mereka.

Tapi kehidupan yang tenang buyar seketika. Hari itu, saat pulang kerja, rumahku banyak orang.

Baru masuk ke dalam rumah, aku melihat seorang ibu paruh baya langsung memelukku sambil menangis, dan terus mengucapkan kata “maaf” padaku.

Ibu angkat menjelaskan wanita paruh baya itu adalah ibu kandungku, tapi aku merasa asing melihat wanita ini.

Aku tidak membencinya, kalau bukan dia yang dengan teganya mencampakkanku, aku juga tidak bisa bertemu dengan ibu angkat yang membesarkanku ini.

Ilustrasi.

Tapi wanita setengah baya ini mengatakan bahwa adikku menderita leukemia dan membutuhkan pencocokkan genetik untuk transplantasi sumsum tulang adikku. Aku pun bingung seketika tidak tahu apa yang sebaiknya kulakukan mendengar itu.

Sehubungan dengan itu, mereka memberikan 200 juta rupiah untukku sebagai tanda ucapan terima kasih, tapi aku tolak.

Ibu angkatku menarikku ke sisinya dan berkata di hadapan semua orang :

“Keluarga kami tidak kekurangan uang, ketika itu dengan teganya kalian mencampakkannya, sekarang kalian datang mencarinya, dan langsung memintanya menyelamatkan anakmu, meskipun dia bukan anak kandungku, tapi bagaimana pun juga dia adalah anak kesayangan kami, dan kami tidak tega melihatnya harus menderita lagi.

“Boleh-boleh saja menyumbangkan sumsum tulang, kecuali kalian bisa melakukan satu hal yang baik untuk putriku dan membuatku tersentuh, maka hal itu akan kami pertimbangkan. Adapun mengenai uangnya, kami juga tidak butuh, kami anggap itu sebagai amal, bagaimana, sanggup ? ”

Orang-orang yang mendengar gagasan itu setuju dengan syarat yang diajukan ibu angkatku, namun, wanita setengah baya itu berlutut memohon padaku untuk tidak mempersulitnya, aku hanya tersenyum dingin mendengarnya, kemudian langsung menyuruh mereka keluar.

Ilustrasi.

Jangan salahkan kalau aku bersikap tega, aku hanya tak mau memaafkan begitu mengingat perlakuan kalian yang dengan teganya mencampakkanku ketika itu.(jhn/yant)

Sumber: twgreatdaily.com



Loading...
loading...

Leave a Comment